Kabar itu datang secara tidak mengejutkan. Biasa saja. Sama seperti berita soal politikus yang berbohong atau presiden yang gemar mengeluh dan/sembari bersenandung. Kabar yang dimaksud adalah tiket untuk pawai Ogoh Ogoh, maksud saya, konser Lady Gaga yang ludes dalam sehari. Hal serupa berlaku untuk tiket konser Morrissey yang ludes bak korma di bulan puasa. Beberapa bulan sebelumnya, definisi atas kata ‘wajar’ juga diuji oleh seorang bocah bernama Justin Bieber yang membuat anak-anak Indonesia memaksa orang tua mereka untuk membeli selembar tiket senilai hingga Rp 1 Juta. Di negeri ini, uang memanglah pintu untuk menuju banyak hal.
Konser dengan tiket seharga ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah, tampaknya telah menjadi sebuah kelaziman di hari-hari ini. Seandainya tiket tersebut di jual di lapak terbuka layaknya jeruk dan mangga, kita tentu masih bisa menawarnya hingga pecahan lima puluh perak. Apa mau dikata, kuasa atas harga bukan di tangan konsumen. Lagipula, wong kita mampu beli kok, kenapa harus sok-sokan jadi orang susah? Seandainya Michael Rusli, (Presiden Direktur Big Daddy Production. Adrie Subono mah lewat) menantang saya untuk memborong tiket konsernya, saya akan jawab dengan lantang: “Wani piro!?”